https://ejournal.anugrahdutaperdana.com/index.php/jip/issue/feedPragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan2026-08-26T15:37:35+00:00Alfiannoralfiannor.net@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</strong> adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh <a href="http://www.anugerahdutaperdana.com/" target="_blank" rel="noopener">CV. Anugerah Duta Perdana</a> bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. <strong>Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</strong> akan terbit 2 (dua) kali dalam setahun, pada periode Maret - Agustus dan September dan Februari. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. artikel merupakan hasil penelitian asli dengan maksimal plagiarisme 25%. Artikel yang dikirimkan ke <strong>Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</strong> akan direview oleh minimal 2 (dua) reviewer. Artikel yang dikirimkan harus memenuhi kriteria penilaian dan sesuai dengan petunjuk dan template yang disediakan oleh <strong>Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</strong>. Penulis harus mengunggah Pernyataan Hak Intelektual / Hak Cipta saat mengirimkan naskah. Artikel harus diserahkan melalui <em>Open Journal System</em> (OJS) dalam format .doc atau .docx. <strong>Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</strong>terdaftar di dengan Nomor <em>International Standard Serial Number</em> (ISSN) Online: 3047-7751. Secara umum fokus dan ruang lingkup Jurnal bidang Ilmu Pendidikan dapat mencakup berbagai topik yang berkaitan.</p>https://ejournal.anugrahdutaperdana.com/index.php/jip/article/view/238INSTRUCTIONAL STRATEGIES TO BRIDGE STRUCTURAL LITERACY AND HIGHER-ORDER REASONING IN EFL ACADEMIC WRITING2026-08-26T15:07:30+00:00Nana Suciatinanasuciati@upk.ac.id<p>Academic writing requires EFL undergraduate students to master both formal text organization and higher-order cognitive processing. While instructional supports such as writing templates, sentence frames, and digital tools like Grammarly and generative AI effectively enhance structural literacy and surface correctness, novice writers frequently struggle to generate deep academic discourse. Building upon empirical baseline findings from Suciati et al. (2024) and Suciati and Palupi (2026), this qualitative conceptual study investigates the persistent gap between surface formal compliance and higher-order academic reasoning. Through a secondary qualitative analysis of 11 undergraduate research articles authored by fourth-semester EFL students, this paper examines four recurring cognitive writing bottlenecks: (1) stating broad problems rather than articulating explicit epistemic research gaps, (2) presenting serial citations instead of synthesized literature reviews, (3) reporting descriptive data without probing underlying causes, and (4) following formulaic discussion sequences that lack conceptual depth. The findings indicate that structural and linguistic scaffolding alone is insufficient to cultivate critical academic voice or complex reasoning. To address these challenges, this study proposes a targeted Cognitive Scaffolding (CS) framework that complements structural support with pedagogical strategies such as synthesis matrices, counter-argument mapping, and critical questioning routines. By shifting instructional focus from surface correctness to cognitive empowerment, this study offers practical insights for EFL writing instructors seeking to foster meaningful academic argumentation and analytical depth in student writing.</p>2026-08-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikanhttps://ejournal.anugrahdutaperdana.com/index.php/jip/article/view/205PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR TERHADAP MATA PELAJARAN IPAS PADA KURIKULUM MERDEKA DI SD IT KHOIRUL ILMI 2026-08-11T12:19:24+00:00Sundari Sundarisundari0517@gmail.comLayil Safitrilayilsafitri1991@gmail.comThessa Herdyanathessagurusinga@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui persepsi guru sekolah dasar terhadap pelajaran IPAS pada Kurikulum Merdeka kelas IV dan kelas V SD. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mengembangkan konsep sensivitas pada masalah yang dihadapi, menjelaskan realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori dan mengembangkan pemahaman akan satu ataunlebih fenomena yang dihadapi. Pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian pembelajaran IPAS terbagi menjadi tiga yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (penilaian). Perencanaan pembelajaran dengan mengembangkan capaian pembelajaran yang kemudian dikembangkan untuk menjadi modul ajar untuk dipakai sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran. Untuk pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, peserta didik terlihat aktif serta mengikuti pembelajaran dengan tertib. Evaluasi pembelajaran sudah berjalan dengan baik, guru melakukan penilaian dari dua bentuk asesmen, yang pertama dari asesmen formatif yang sudah dilaksanakan, kedua dari asesmen sumatif yang diadakan setiap akhir semester dan digunakan sebagai nilai akhir.</p>2026-10-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Pragmatik: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan